Jumat, 23 Februari 2018

Mengapa aku harus menjadi Suku Dayak?


"Mah, kenapa sih orang dayak itu selalu percaya dengan hal-hal gaib? Ini kan sudah zaman modern, masih aja percaya sama begituan"

"Key, jaga omonganmu! Dikutuk kau, baru tau rasa!" Ibu kay marah, namun ia menahan untuk tidak teriak, karena takut terdengar tetangga

"Mamah terlalu percaya! Mamah terlalu melebih-lebihkan, mana buktinya mah? Mana" Tanya Key dengan jengkel.

"Kamu ini anak tidak tau diri! Mamah bukannya percaya, tapi setidaknya kita menghargai nenek monyang kita!" Sudah tidak tahan, akhirnya ibu Key berteriak. Ia sudah tidak kuat menghadapi Key yang semakin hari, semakin ada-ada saja.


Key selalu seperti itu, dia tidak pernah percaya sedikitpun, apapun itu. Bahkan tidak jarang dia berfikir kenapa dia harus terlahir menjadi suku dayak, mengapa ia harus hidup di tengah-tengah orang-orang yang percaya kepada hal-hal yang mustahil. Hingga suatu saat, kemalangan menghampiri Key.

Key berlari ke dapur, sambil membawa jaket dan kunci motor yang ia ambil dari kamar kakaknya, pamit kepada ibunya dengan buru-buru. Ibunya sedang memasak nasi goreng ketika Key menghampiri.

"Mah, Key pergi dulu, ada keperluan" Setelah pamit, Key langsung bergegas pergi

"Key, sampulun dulu, besar pahuni nya ini" teriak ibu key

"Gak usah, Mah. Pahuni apaan coba? Gak ngaruh" Jawab Key dengan bodo amat

Key pergi, tanpa menuruti apa kata ibunya. Dengan santai Key mengendarai motornya, dan tiba-tiba rantai motornya putus disaat Key sedang berada dalam kecepatan di atas rata-rata, mengakibatkan Key terbelanting jauh sekitar 15 meter dari tempat kejadian. Beruntung banyak warga yang membantu dan segera menghubungi keluarganya. Key dibawa ke rumah sakit oleh warga yang menolongnya.

Keluarganya datang kerumah sakit, ibunya menangis melihat Key yang tidak berdaya terbaring di kasur rumah sakit.

"Key, kenapa kamu selalu tidak percaya nak? Kenapa kamu selalu menanggap remeh segalanya? Kamu selalu tidak mau kalau ibu suruh sampulun, dan sekarang kamu kena yang namanya  panuni nak. Kita tidak bisa mengelak, kita tidak bisa menghindar, karena ini sudah tradisi kita untuk menghormati nenek moyang kita" ujar ibu Key sambil terisak melihat Key.


Note : Kita terlalu mengganggap mereh segala sesuatu, menyepelekan segala sesuatu. Setiap suku pasti memiliki larangan masing-masing, dan untuk yang tidak percaya, siap-siap saja. Kita bukannya ingin menyembah, tapi apa salahnya jika menghormati? Karena itu adalah adat.

Rabu, 14 Februari 2018

Mencari teman dan pengalaman


Duarrrrrrrrrrrrrrr ...
Tess .. Tes .. Tes .. 1 .. 2 ..3 ... Eh kok mikrofon gak nyala? Colokin dulu sana, kerja gak becus! *eh apaan sih? πŸ˜‚

Nulis, nulis, nulis !
Semangat nulisku tiba-tiba bangkit, dan kamu tau kenapa? Karena sudah mentok deadline lagi hahahahaha ...

Wahai pembaca setiaku, aku ingin bercerita sedikit dan semoga kamu sudi membaca tulisan yang tidak berfaedah ini πŸ˜‚
Sebenarnya niat untuk menulis ini sudah ada jauh-jauh hari sebelumnya, tapi ya gitu deh, belum juga terlaksana.
Waktu awal-awal mulai Tingkat 5 ini, sudah ada terlintas dikepala mau nulis
"Besok nulis di sekolah aja deh, bikin konsep dulu" tidak terlaksana,  "eh iya, aku belum nulis, nanti aja deh, kalau kerjaan udah beres" tidak terlaksana, dan sampai lah diriku ke dalam tempat sempit ini, aku sudah tidak bisa berlari. Apakah aku diberi pilihan? Tidak! *eh kok kayak drama korea sih? πŸ˜‚
Jadi balik lagi aku ke diri sendiri, yang salah sebenarnya aku, ya aku!. Aku memang kebiasaan bersantai, menunda-nunda waktu, eh pas udah mepet baru deh bergerak.
Nah, segini saja cerita diriku yang sangat-sangat tidak berfaedah ini, dan akan menghilangkan waktumu yang berharga hahaha *tertawa jahat

Sekarang kita sampai di poin terpenting dari tulisan ini, yaitu Tantangan Tingkat 5 RCO dan ini adalah tingkat terakhir 😭 dede jadi syedih *sambil ngelap ingus.

"Malas!" mungkin itu julukan yang tepat untuk anak ingusan yang baru menginjak bangku Sekolah Menengah Atas dan kini sedang duduk manis di bangku kelas XI-IPA ini. Mau bagaimana lagi? Aku ini anak IPA berjiwa IPS πŸ˜‚ tidak suka fisika, kimia, dan matematika. Keren kan? πŸ˜‚

Kurang lebih seperti itu juga aku disaat awal-awal ikut RCO. Sebenarnya aku memang suka baca, suka sekali malah. Tapi ya gitu deh, aku emang orangnya suka nurut sama mood. Kalau mood lagi baik ya baca, kalau tidak ya tidak membaca dan perlu banyak stok cokelat dan ice cream untuk mengembalikan mood seperti semula.
Tapi, semakin lama, aku semakin menganggap membaca itu untuk hiburan, untuk menghilangkan penat, tapi aku merasa bahwa membaca itu harus, membaca itu sesuatu yang sangat diharuskan, wajib. Di temani dengan Mbak Sakifah dan Mbak Ciani, kehidupan di RCO sangat menggembirakan dan tentu mereka berdua itu jomblo hahaha πŸ˜‚.
Apalagi tantangan yang setiap tongkatnya semakin wow dan membuat anggota mungkin mengelus-elus dada masing-masingπŸ˜‚
"Bahagia" mungkin itu salah satu perasaan selama aku bergabung disini.
Mbak Sakifah dan Mbak Ciani, terima kasih atas segalanya, terima kasih untuk nasehatnya, terima kasih untuk ebook yang selalu dibagikan setiap naik tingkat, terima kasih dari hati yang sangat mendalam.
Semoga jika sudah selesai program ini, aku terus semangat membaca, terus semangat belajar.
Untuk teman-temanku yang selalu aku panggil dengan sebutan Mbak,Mas,Om, kalian itu terbaik, kalian itu hebat, berkat kalian aku belajar banyak hal, berkat kalian aku menjadi bisa.

Dan hal yang paling penting dari apapun
" Aku mencintai kalian semua ".

#TantanganRCO #ODOP #Tingkat5 #Kesan

Selasa, 06 Februari 2018

Manfaat membaca buku suku Oot Danum

Lagi-lagi tulisan yang saya tulis ini hanya sekali duduk, tidak sempat revisi karena hari ini sudah benar-benar mentok deadline nya.
Sebenarnya ini unsur kesengajaan, karena ketika sudah mentok deadline, semangat menulis saya langsung berapi-api kembali walaupun ini terkesan buru-buru.

Malam ini saya membuat tantangan kesan saya membaca buku yang ditulis oleh Abdul Fattah Bahan & Duhing Dirit Rampai dengan judul "Suku Oot Danum bara Tumbang Manange sampai Tumbang Rungan".

Kenapa saya memilih membaca buku ini?
Jawabannya sangat sederhana. Karena, berjam-jam sama mencari buku berbahasa dayak, hanya buku ini yang saya dapatkan. Hahahahaha *tertawa jahat.
Tapi, setelah saya selesai membaca buku ini, saya terkagum-kagum, tulisan didalamnya indah sekali dan yang pasti karena ini adalah buku Tambun Bungai, buku suku dayak oot danum, yaitu buku suku tetangga kami.

Manfaat membaca buku ini benar-benar banyak sekali, yang mungkin orang suku lain tidak akan tau apa itu.

Buku ini menceritakan tentang Suku Oot Danum, dan kamu adalah Suku Dayak Ngaju. Sebagai orang Dayak Ngaju, saya merasa setelah saya membaca buku ini, pengetahuan saya tentang suku mereka bertambah. Saya juga banyak belajar setelah membaca buku ini, saya tau kebiasaan mereka, saya tau kehidupan mereka seperti apa, dan saya tau suku mereka seperti apa.

Mungkin sampai sini dulu, tulisan saya. Jika penasaran, silahkan membaca sendiri hehehehe
Selamat malam

#TantanganRCO #ODOP #Tantangan4

Minggu, 04 Februari 2018

04 Februari

Malam ini berat sekali, sungguh ...
Badan ini mendadak panas dingin, jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, hati rasanya gelisah sekali, dada terasa sesak, dan tanpa aku sadari ada sesuatu yang meleleh keluar dari mata ini.
Apakah semuanya harus sesakit ini?
Aku memang tidak pandai mengartikan perasaan, tapi aku sadar walaupun itu mungkin membutuhkan waktu yang lama.
Entahlah, setiap kali kamu menceritakan masa lalu mu, dada ini sesak seketika.
Aku memang tidak memiliki pelukan nyaman, aku tidak bisa menemanimu kemanapun kamu mau dan aku susah diajak keluar.
Tapi, kamu harus tau satu hal. Diri ini mungkin tidak sebaik dia, jauh dari kata sempurna malah.
Aku cukup mencintaimu dengan sekedarnya, ya, sekedarnya. Tapi walaupun cinta ini sederhana, tapi dia tidak akan berkurang sedikitpun, semakin hari malah semakin bertambah. Kau harus tau itu.

Note : Sebenarnya aku males nulis ini, mending nemenin ayah duduk sambil ngemil wkwkwkwk. Tapi kan harus belajar nulis fiksi terus 😍

Jumat, 02 Februari 2018

Konsisten menulis?

Benar apa kata orang di luar sana bahwa konsisten menulis setiap hari itu tidak lah mudah dan ini adalah postingan pertama saya bulan ini. Sangat sulit sekali menerapkan semua itu dalam kehidupan saya, sangat-sangat sulit.
Tapi malam ini saya mulai sadar setelah seseorang mengirim chat dengan isi "meski kamu chat gini, kamu gak pernah ganggu kerjaanku. Jadi jangan karena chat aku ganggu semua yang seharusnya kamu kerjakan".
Seketika itu juga saya mulai berfikir "ini sudah jalan yang saya pilih, menjadi penulis adalah pilihan saya sendiri, tidak ada campur tangan orang lain. Lantas kenapa lagi saya harus mengeluh?"
Saya tertegun lagi, merenung lagi. Entah mengapa saya teringat kata-kata Bang Syaiha kepada kami "Tulislah, tulis apa saja. Kelak, tulisanmu akan menemukan jodohnya".
Dengan semangat yang berapi-api, saya mulai merbenah memperperbaiki diri, saya ingin belajar menjadi lebih baik lagi. Walau bisa dikatakan, bahwa sebagian besar tulisan saya (mungkin) tidak layak untuk di baca.
Tapi inilah saya, saya yang selalu ingin belajar lagi dan lagi, saya yang selalu ingin menjadi seperti mbak/mas saya yang ada di komunitas.
Saya datang lagi, dengan semangat baru ....


"Teman, saya pulang"

Jumat, 26 Januari 2018

Konflik dalam persahabatan

    "kriingggg...kriiingggg..kriinggg..."terdengar bunyi bel yang sangat nyaring di setiap sudut ruangan, dan menandakan waktunya istirahat. Siswa-siswi SMKN 1 PELITA berhamburan keluar kelas, sekedar untuk beristirahat di kantin. bermain bersama teman teman yang lain. mengerjakan tugas di perpustakaan, berbincang-bincang dengan tema, bahkan berfoto-foto dikelas bersama teman. Ya, masa inilah yang banyak memberikan cerita . Mulai dari kebersamaan, kekeluargaan, dan juga kekompakkan. Masa dimana sosok remaja bertumbuh menjadi dewasa. Masa yang dimana semua orang pasti merasakannya dan jika terlewat ingin sekali waktu berputar kembali ke masa ini.

Terlihat tiga sejoli yang sedang asik berunding tentang pelajaran yang baru selesai dibahas oleh guru.

"Udah ca, lebih baik kita kerjakan tugas ini diluar sekolah bersama sama..." ujar dhea, cewek berbadan mungil namun memiliki sifat bosan dan sedikit cerewet itu. berbicara sambil menatap wajah teman sebangkunya yang sedang serius mengerjakan tugas.

"Hmmm, betul juga kata dhea mendingan kita kerjain diluar bareng bareng sambil makan makan hehheee..." sambar chika , gadis imut bertubuh tinggi berisi dan pintar itu.


"Iya sih, tapi kerjainnya dirumah siapa dulu nih..?" sambil membereskan buku yang berantakan di meja dan memasukkannya ke dalam tas merah bermotiv milik gadis bernama icha tersebut.

"Gimana kalau dirumah ajeng aja?" Chika berpendapat.

"Tapi dia kan beda kelas tau. Lagipula takut dia ada acara lain. atau . ga dibolehin sama mamahnya , kita kan tau. mamahnya ajeng itu kan galak.." bawel dhea.

"Ya kan tinggal di sms aja ribet banget."sahut chika cuek.

"Oke oke, ntar aku yang sms. Jadi gak nih ke kantinnya ? Aku laper.." icha berdiri mengajak dua sahabatnya itu ke kantin.

Tiga gadis bersahabat yaitu Icha, Chikka, dan Dhea -sebenarnya ada satu lagi, tapi kelas dan jurusan mereka berbeda-.
Namun tidak membuat persahabatan mereka renggang. Jika waktu di sekolah mereka tidak bisa bersama , mereka pasti mencuri curi waktu di luar jam sekolah hanya sekedar untuk berbincang bincang dan bermain bersama. Mereka bersababat mulai dari kelas satu smp. Sampai tak terasa usia persahabatan mereka sudah sampai lima tahun, susah senang di lewati bersama.
Ke kompakkan inilah yang membuat kenyamanan untuk bersama. Walaupun terkadang banyak konflik yang terjadi. Mulai dari urusan keluarga, pribadi, bahkan pacar sekalipun. Ditambah lagi dengan sifat mereka yang berbeda, tak jarang menjadi bahan perdebatan.
Tapi sebuah masalah akan selesai jika mereka mencoba mengerti satu sama lain, agar terjadi perpecahan alias bubar!

***

Setelah mereka memutuskan untuk pergi ke kantin beristirahat. kebiasaan seorang gadis remaja pasti selalu bercerita , curhat tentang masalah pribadinya. apalagi kalau sudah bercerita dengan sahabat, pasti di dengar dan di berikan pengarahan jika sulit mencari jalan keluar. Sampai sampai makan pun sambil berbincang bincang. Dan tertawa bersama.
tiba tiba di sela mereka asik bercerita, terasa getaran dari handphone berwarna ungu milik icha yang berada di dalam saku 'rok' abu abunya. Segera icha mengeluarkannya. Terlihat pesan singkat masuk dari "Ajeng" .

From : Ajeng ( +628596xxxx )

Pesan : "Broh! Gua gak bisa pulang bareng kalian sekaligus belajar bareng kalian. Ada acara mendadak di rumah si april. Sorry.."


Setelah membaca pesannya, icha langsung memberikan handphone nya kepada dhea dan chikka yang lagi asik melahap bakmie kesukaan mereka. Mengisyaratkan agar mereka membaca pesan dari Ajeng.


"Dia selalu mementingkan urusannya dengan april. Daripada belajar bareng dengan kita .." ketus chika kecewa. Chikka memang tidak suka mendengar ataupun melihat Ajeng bersama April.

"Jangan berbicara seperti itu chik ! Mungkin saja mereka ada keperluan yang sangat penting, tadi juga dia udah minta maaf. Tanpa ajeng kita masih bisa belajar bareng yakan..?" icha mencoba berfikir positif, dan menenangkan keadaan. Dari wajah chikka sudah terlihat aura kekecewaan terhadap ajeng.
Sedangkan dhea tidak mengeluarkan sedikit katapun di sela pembicaraan , dan merasa tenang tenang saja sambil lanjut melahap bakmie nya yang mulai dingin. Menurutnya sudah hal biasa , tidak perlu dipermasalahkan.


***


          Suasana diluar pun menjadi hening ketika jam masuk kelas dimulai. Siswa siswi dengan khidmat mendengar penjelasan dari guru, dan mengerjakan tugas baru yang harus di kerjakan. Tetapi ada juga kelas yang tidak disi guru mata pelajarannya, alhasil mereka 'free' damai tanpa belajar. Kelas bahkan gemuruh dibuatnya.

 Jam yang di tunggu tunggu pun telah tiba. Yaitu jam dimana waktunya pulang sekolah. Terdapati dhea, chika, dan icha yang bersama sama berjalan menuju tempat parkiran pinggir sekolah. Chikka dan icha selalu membawa sepedah motor setiap ke sekolah dikarenakan jarak sekolah dengan rumah mereka yang sangat jauh. Dhea tidak membawa sepedah motor karna tidak bisa mengendarainya alhasil setiap berangkat sekolah selalu bersama icha. Begitulah sahabat selalu ada di setiap kita membutuhkannya.

Namun di saat mreka sampai tempat parkiran, terlihat Ajeng yang sedang mengeluarkan sepeda motor miliknya.

"Ajjjeeengggg...????!!!" teriak icha kencang.
Sontak ajeng pun menoleh ke arah dimana suara teriakkan memanggil namanya itu berasal.
"Hey kaliaaann... " sahut ajeng dengan wajah berseri seri.
Chika hanya terdiam, sementara dhea dan icha membalas dengan sebuah senyuman, lalu mereka mendekati Ajeng.

"Sorry yah, hari ini gue gabisa bareng kalian.." maaf ajeng lontarkan.

"Ya,ya,ya. Urus saja urusanmu.." ketus chika.
Sementara dhea dan icha hanya bisa melihat, sambil bermain sikut sikutan. Icha membuat kode kodean agar dhea mau mengalihkan pembicaraan. Karna chikka dan Ajeng pasti berdebat. Namun apa daya mereka tidak bisa berbuat apa apa dan cukup menyaksikan ajeng dan chikka berdebat.

"Kok lo ngomong gitu sih chik! Gua bukannya mentingin urusan gua sendiri. Tapi lo kan tau gua Ada acara penting sama april." Tegas Ajeng dengan mimik wajah yang mulai geram. Ajeng ini sifatnya bawa hokki, tapi mudah untuk marah. Apalagi menyangkut perasaannya.


"Oh, jadi kamu lebih peduli sama april dibanding kita sahabat kamu?!" tak mau kalah chikka emosi.

"Eh chik! April juga sahabat gue! Dan bukan berarti gue gak peduli sama kalian. Loh bukkannya gue selama ini selalu ada buat kalian? Lo jangan egois dong chik! Gue tau lo gak suka sama april, tapi lo jangan pernah larang gue buat sahabatan sama dia. Ngerti?" bantah ajeng dengan nada tinggi.

Ajeng dan April juga bersahabatan mulai dari kelas tiga smp. Tapi disamping itu Ajeng sahabatan juga dengan chika, icha dan dhea. Sifat ego chikka dan rasa tidak sukanya terhadap April membuat Ajeng sulit mempersatukan mereka. Maksud Ajeng agar mereka menjadi teman baik walaupun bukan sahabat. Ajeng sangat lelah menghadapi sikap keegoisan chikka dan menyudutkannya untuk menjauhi April. Sulit dipercaya hal seperti itu membuat konflik bagi persahabatan mereka.

"Oke terserah!" singkat chikka cuek.

"Iyaudahlah chikka, ajeng juga butuh waktu bareng sama temennya.." sahut icha bermaksud menenangkan chika.

"Oke terserah lo juga deh chik! Lo boleh marah ma gue. Tapi yang jelas gue gak akan marah sama lo.."

"Gue gak marah, cuma kecewa.."

Tiba tiba april datang menghampiri ajeng, dan tersenyum kepada chika Icha, dan dhea. Dhea dan icha membalas senyuman tapi tidak dengan chika yang menatap sinis dan membuat april mundur tak enak hati. Chikkapun langsung mengeluarkan sepedah motor miliknya dan meninggalksn Ajeng, di ikuti juga icha dan dhea.

"Duluan ya jeng.." sapa icha. Ajeng hanya tersenyum.

Ajeng dan april meminggalkan sekolah , pulang. Di tengah perjalanan april membuka percakapan.

"Si chika kenapa ya jeng? Tadi lihat april kok sinis gitu.." tanya april dengan polosnya.

"Gak tau, dia lagi em kali.." ujar ajeng singkat. Sambil fokus menyetir. Ajeng tidak mau menceritakan kejadian tadi, karena dia ingin menjaga perasaan sahabatnya juga. April.

***

Hari mulai gelap, angin berhembus dengan kencang. Cuaca dingin menyelimuti kota. Kesunyian, terasa sangat menyentuh. Bulan yang begitu indah membulat, cahayanya yang menyinari malam hari. Pernak pernik bintang mengelilingi cahaya bulan , dengan indahnya menghiasi malamnya langit.
Tapi cuaca tidak mendukung suasana dalam rumah icha. Icha, chika, dhea, dan ajeng sedang kumpul bersama. Ternyata sudah direncanakan sebelumnya oleh ajeng melalui pesan singkat yang ia kirim. Ajeng yang biasanya selalu tertawa, bahkan sangat mewarnai suasana jika bersama dengan ketiga sahabatnya. Kini memulai dengan serius dalam pembicaraan.

"Kali ini kita serius , dan gak boleh ada yang bercanda ataupun menyeleweng dalam pembicaraan.." membuka percakapan, ajeng membuat peraturan.
Icha , chika, dan dhea hanya mengangguk.
Ajeng tiba tiba merasa kesal, merasa risih melihat chika yang asik bermain dengan gadgetnya se akan tidak menghiraukan apa yang akan dibicarakan oleh ajeng.

"Please chik. Fokus ke pembicaraan kita sekarang. Jangan fokus ke tab lo terus!" tegas ajeng.
Dan kali ini chika tak banyak bicara dan langsung menuruti apa yang ajeng katakan.

"Terus kamu mau ngomong apa..?" tanya chika.

"oke, langsung aja. Gue cuma mau kalian renungin apa yang gue bicarain. Kita tuh udah sahabatan dari smp udah lama dan bukan waktu singkat. Dan sekarang gue ngerasa banyak masalah setelah kita beranjak remaja. Semuanya perlahan lahan berbeda. Menurut gue kita gak sekompak dan se solite dulu! Mana sahabat yang selalu ngerti ? Mana ?" jelas ajeng.


"Loh, bukannya kamu jeng yang selalu ngilang? dan susah buat di ajak bareng? Gimana mau solite kamu aja gitu selalu saja sama april." tungkas chika. Dan perdebatanpun dimulai (lagi)

"Jangan bawa bawa april dalam masalah kita deh! Dia tuh gak tau apa apa! "

"Ikh, emang benerkan?" ujar chika membenarkan apa yang dia katakan tadi.

"Sadar dong chik ! Lo juga. Lo tuh egois ! Kita semua kaya budak lo tau gak. Deket sama siapa aja elo yang ngatur. Mana solidaritas lo sama sahabat sendiri selama ini?" tegas ajeng bernada tinggi dan berhasil menyudutkan chika.

"Iya chik, lu jangan gitu. Kita semua pasti punya pribadi masing masing. Dan emang sih status kita itu ada dilingkaran persahabatan tapi kita juga punya hak komunikasi sosial sama siapa aja. Kita selalu open sama yang lain gak perlu di batesin gini." dhea angkat bicara dan berhasil menyudutkan semua yang chika lakukan itu memang salah.

"It's okey. Gue gak akan ngelarang kalian untuk berteman dengan siapapun. Tapi inget gue tetep gak suka sama si april itu!" ujar chika sambil menatap kearah ajeng.


"Ok. Itu sih terserah elu ya chik. Yang penting gue selalu terbuka untuk berteman dengan siapapun." balas ajeng.

"Jadi? Konflik permasalahan ini selesai kan? Sudah kan? Gak ada perdebatan ataupun marah marah lagi kan?" tanya icha polos.

"Persahabatan kita tetep lanjut sampai kapan pun.."

Akhirnya mereka menyelesaikan permasalahannya dengan bijak walaupun banyak perdebatan mulut yang terjadi. Sifat seseorang sulit untuk dirubah, tidak akan pernah hilang kecuali orang itu sendirilah yang mau berusaha merubah sifatnya sendiri. Ke egoisan seseorang memang sulit di hilangkan tapi mudah untuk di kendalikan. Dan seberat apapun masalah yang terjadi dalam sebuah persahabatan jika dengan sifat bijaknya mengatasi permasalahan pasti akan menemukan titik terang dalam permasalahan tersebut.

#TantanganRCO #ODOP #Tingkat3

Minggu, 14 Januari 2018

Gemuruh ombak

Gemuruh ombak mulai terlihat menghantam empat lima karang-karang yang kokoh, menghantam karang-karang yang seolah sombong dan congkak, tapi seakan tidak berpaling, meskipun ombak tiada henti menghantam.

Seperti itulah dirimu, hanya diam dalam lamunan, seolah aku hanyalah percikan air yang membasahimu. Aku yang berusaha mengetuk pintu hatimu, tapi kamu hanya diam dan seolah tidak mengenalku.

Gemuruh hati ini bagaikan gemuruh ombak yang menyapa pasir di tepian pantai, dan kembali lagi ke tengah laut.

Inikah maumu?
Bila langkah ini tak lagi sana dan seirama, biarlah burung camar bersenandung sendiri dalam senja yang merajuk, biarlah sang pelangi menghilang dari birunya langit.
Langkahmu telah tinggalkan kenangan pahit dalam hidupku.
Untuk apa lagi kamu menoleh kepadaku? Pergilah yang jauh, dengan membawa semua kesombongan yang kau punya.

#30DWC #Day4 #OneDayOnePost