Sabtu, 19 Mei 2018
Coretan tentang pesan dan kesanku
Deadline lagi, aduuhh...
Setelah dari pagi memikirkan lebih baik mengerjakan yang mana terlebih dahulu, baru malam ini aku menemukan jawabannya, yaitu menulis tentang Kesan dan Pesan untuk Reading Challenge ODOP (RCO) tercinta.
Aku sudah pernah ikut di RCO musim kedua dan beruntung saat itu aku lulus, sepertinya itu yang membuatku menjadi ketagihan, membaca memang selalu membuat ketagihan, apalagi jika dipaksa. Itu akan menjadi suatu tantangan tersendiri.
Di RCO musim ketiga ini, aku menjadi PJ, ditemani si Lutfi yang tidak lain adalah teman seperjuangan ketika masuk di ODOP Batch 4.
Sebenarnya aku sangat jarang bekerja, dikarenakan sakit yang selalu datang kapan saja, sakit yang tidak tau diri. Diobatin malah ngelunjak, apalagi gak diobatin, kebayang kan ngelunjaknya kayak gimana? Hahahaha
Jadilah si Lutfi yang paling sering bekerja, mulai dari ngerekap, menjawab pertanyaan, dan lain sebagainya. Maaf ya Lut 🙏
Btw, kok jadi curhat?
Sebaiknya langsung ke pambahasan, sebelum curhat ini beranak cucu hehehe
Reading Challenge ODOP atau biasa disingkat RCO adalah salah satu program ODOP. Tujuannya jelas, yaitu menumbuhkan minat baca bagi semuanya. Dari yang awalnya membaca 10 halaman per hari, 20 halaman perhari, atau 30 halaman perhari, menjadi semakin banyak halaman yang dibaca setiap harinya.
Awalnya, yang mendaftar di RCO cukup banyak, hingga Lutfi sekali mengirim hasil rekap, bisa berlembar-lembar.
RCO musim ketiga dibagi menjadi 4 level, dan di level gang terakhir ini, hanya tersisa 25 orang saja yang mampu bertahan, kurang dari setengah jika dibandingkan dengan yang mendaftar RCO saat itu.
Tapi, terima kasih untuk yang masih bertahan. Kalian hebat, aku akui itu. Bagaimana tidak, tantangan yang diberikan setiap tingkat lumayan membuat kepala cenat-cenut mengerjakannya dan ternyata saat ini kita sudah berada di hari terakhir. Tanpa terasa begitu cepat 50 hari berlalu, bagai melesat begitu saja.
Semoga, ketika sudah lulus dan mendapatkan ijazah RCO, kita semua selalu membaca setiap hari, walau tidak ada yang memaksa atau merekap lagi. Jadi kita bisa membaca sepuasnya tanpa memikirkan lupa laporan.
Aku tidak tau apalagi yang ingin aku sampaikan.
Aku beruntung bisa mendapatkan teman kerja sekeren dan serajin Lutfi, semoga bisa bekerja sama dilain waktu lagi jika berkenan.
Dan yang paling aku harapkan, semoga RCO makin keren kedepannya, makin oke, dan makin segalanya.
#TugasRCO'3 #Level4 #Tugas3 #OneDayOnePost
Tentang Bom Surabaya
Awalnya saya hanya iseng-iseng nimbruk grup Kabinet ODOP, dan saat itu mereka sedang membahas tentang RWC. Saya merasa saya gak tau apa-apa karena lantaran saya sendiri yang non muslim, akhirnya saya izin ke ketua One Day One Post untuk tidak mengikuti kegiatan ini, dan ternyata Paket memperbolehkan.
Tiba-tiba muncul lah si Lutfi Yulianto, yang biasa dipanggil Lutfi/Upi/Upil 😂 dan dia mengusulkan untuk mengerti tugas tersendiri untuk saya, yaitu tentang "Bom Surabaya", akhirnya itu menjadi tugas personal 😭
Cuss langsung ke topik pembahasan.
Hari Minggu, 13 Mei 2018, bom bunuh diri dan meledakkan 3 Gereja di Surabaya, yaitu :
1. Gereja Santa Maria Tak Bercela
2. Gereja Kristen Indonesia, jalan Dipenegoro
3. Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, jalan Arjuna
Menurut update terakhir yang saya lihat, 18 orang meninggal dunia.
Kalau ditanya sakit atau tidak mendengar berita itu, tentu saja sakit.
Terbanyang muka-muka imut anak-anak sekolah hari minggu. Mereka hanya hendak memuji Tuhan Yesus, tidak ingin yang lain. Teringat pula orang-orang yang hendak beribadah, yang belum sempat masuk ke dalam Gereja, mereka juga tertimpa. Ya Tuhan, ini sangat kejam sekali.
Mengapa harus Gereja? Mengapa harus hari minggu? Mengapa harus ketika mereka datang hendak memujiMu, tapi sesuatu itu meledak begitu saja, tanpa sempat mereka berlalri menyelamatkan diri.
Tapi, apakah kita harus sembarangan menuduh? Tentu saja tidak!
Malam harinya, kekasih saya yang tinggal di Surabaya, dan kebetulan rumahnya tidak jauh dari tempat kejadian bertanya
"Apakah kamu salah satu orang yang meyakini bahwa teroris itu beragama Islam?"
Dengan tegas saya berkata "Tidak!"
Kami boleh bersedih, kami boleh marah, tapi apakah kami boleh menuduh tanpa ada bukti?
Biarkan saja, biarkan. Cepat atau lambat semuanya akan terungkap, dan semoga para teroris itu menerima ganjarannya.
Pray For Surabaya. Percayalah, Tuhan akan bertindak mengatasi
Darah Tuhan Yesus mengurapi hamba-hambanya yang terluka, hamba-hambanya yang sudah tak bernyawa oleh ulah para teroris yang diabad itu.
Jumat, 04 Mei 2018
Biografi Mohammad Hatta
Beberapa hari ini bingung antara memilih sejarah atau novel yang difilmkan, dan akhirnya akibat terlalu lama memikirkan, mepet deadline lagi mepet deadline lagi. Sudah kebiasaan sepertinya. Sampai akhirnya aku memilih menulis tentang buku sejarah saja.
Jujur, aku adalah orang yang tidak terlalu suka sejarah. Karena apa? Entahlah, setiap membaca buku sejarah, kantuk selalu menyerang.
Untuk menyelesaikan buku ini saja sangat berat rasanya, beberapa kali tertidur, tapi akhirnya bangun lagi, kaget gara-gara teringar buku bacaan belum selesai.
Membaca sejarah menurutku penting, sangat penting malah. Banyak ilmu-ilmu yang dapat diperoleh dari sana, banyak pengalaman hidup yang luar biasa dan hal mengagumkan lainnya. Tapi, entahlah. Seperti yang kukatakan tadi, setiap membaca buku sejarah, aku terlalu tertidur. Entah, buku sejarah apapun itu, sama saja.
Sudahlah, daripada mendengarkan curhat yang tidak berfaedah ini, lebih baik kita ke jati diri tulisan ini yang sejujurnya.
Buku yang saya pilih sebenarnya buku Biografi bapak Mohammad Hatta yang berjudul " HATTA Jejak Yang Melampau Zaman".
Ia lahir pada 12 Agustus 1902 di Desa Aur Tajungkang, Bukittinggi, dari pasangan Mohammad Djamil dan Saleha Djamil. Orang-orang tua di Bukittinggi menyebutnya ‘anak cie pamaenan mato’–anak yang pada dirinya terpendam kebaikan dan perangainya mengundang rasa sayang.
Dialah Mohammad Hatta. Lelaki dengan senyum ikhlas, wajah teduh, rambut dan pakaian rapi, serta pribadi yang kalem, praktis, dan taat beragama. Bung Hatta adalah sosok bersahaja, tenang, dan penuh wibawa. Hatta adalah negarawan yang langka, sebab ia menulis. Hatta mulai menulis saat umurnya 18 tahun, sebelum masuk universitas. Tulisannya menunjukkan luasnya bacaan dan minatnya pada sastra Ia menguasai sekurangnya bahasa Melayu, Belanda, Inggris, Jerman, serta Prancis. Saat dibuang ke Tanah Merah, Boven Digul, ia membawa 16 peti buku.
Seri kali ini mengangkat kisah Mohammad Hatta, mantan wakil presiden Republik Indonesia. Buku ini terbagi menjadi enam bagian. Dibuka oleh surat dari Goenawan Muhammad kepada Bung Hatta. Selanjutnya menampilkan kisah-kisah yang ditulis berdasarkan hasil penelusuran para wartawan Tempo. Beberapa diceritakan dari sudut pandang orang-orang yang dekat dengan Hatta, orang-orang yang pernah ‘bersentuhan’ langsung dengan beliau, serta dari investigasi ke tempat-tempat yang pernah dikunjungi sang Bapak Koperasi kita.
Saya suka sekali dengan gaya penuturan Tempo. Detil dan membuat emosional. Banyak hal yang saya pelajari dari membaca penggalan-penggalan kisah. Menyenangkan sekali ‘belajar sejarah’ dengan cara seperti ini. Membaca kolom-kolom, melihat galeri foto-foto yang dipajang, membuat saya seolah hadir di tempat serta kejadian yang disebutkan. Ada kisah kedekatan Bung Hatta dengan Bung Karno. Hatta adalah pengkritik paling tajam sekaligus sahabat Sukarno hingga akhir hayat Sukarno. Ada juga kisah Hatta dengan keluarga, sahabat, anak-anak angkat, galeri foto, serta cerita saat Hatta harus dibuang di Digul dan Bandaneira.
Nama Bung Hatta juga diabadikan sebagai nama jalan di Belanda. Mohammed Hattastraat. Prosedur penetapan nama jalan melibatkan sejumlah instansi seperti pos, bagian arsip, bagian perawatan monumen, serta komisi pengembangan dan pembaruan kota. Nama Hatta dipilih karena tokoh ini dianggap pemimpin pergerakan di Indonesia, negarawan, dan wakil presiden yang sempat ditahan Belanda lantaran aktivitas politiknya.
“Mereka adalah orang yang berjasa, berjuang demi pembebasan atau kemerdekaan negaranya,serta memiliki reputasi yang baik.”
Bagaimana sosok Hatta di mata kawannya yang lain? Di mata Sukarno, Hatta adalah sosok yang serius. Ia tak pernah menari, tertawa, atau menikmati hidup. Pun ketika ia muda. Jejak Hatta adalah orang yang memerah mukanya bila bertemu dengan seorang gadis.
Hatta memang bukan Sukarno. Hatta praktis tak pernah berbicara tentang dirinya secara pribadi. Ia terlalu rasional untuk mengungkapkan perasaannya secara terbuka.
#TugasRCO3 #Tugas1Level3 #OneDayOnePost
Kamis, 19 April 2018
Andai aku jadi Ayla
Saya memilih novel The Perfect Husband yang ditulis oleh Indah Riyana, kenapa? Karena saya gemas dengan sosok Ayla di novel ini.
Novel ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Ayla yang dijodohkan sejak kecil dengan lelaki bernama Arsen. Awalnya dia sangat membenci Arsen, tapi pada akhirnya dia lah yang tidak bisa jauh dari Arsen. Ayla tidak pernah menghargai perasaan Arsen, tidak pernah menghormati Arsen dan selalu semena-mena dengan Arsen.
Aku disini ingin berada di posisi Ayla, karena sosok Ayla yang selalu menjadi pusat perhatian saya disini.
Jika saya menjadi Ayla, saya akan mencintai Arsen seumur hidup saya, menghormati Arsen layaknya suami saya, dan Arsen betah berdekatan dengan saya. Pokoknya saya akan menjadi istri terbaik bagi Arsen.
Tapi... Ini hanyalah hayalan semata 😭😭
#TantanganTingkat2 #RCO'3 #ODOP
Kamis, 12 April 2018
Blog Pakde Walimin
Setelah tadi bersusah payah menulis sampai melawan kantuk, ternyata salah blog wkwk 😅
Ternyata aku kebagian blog pakde Walimin.
Pakde Walimin menurutku memang sosok yang keren, hebat, dan saya adalah salah satu pembaca gelap di blog pakde ini *ampun pakde 🙏
Langsung saja, menurutku blog pakde walimin ini bagus sekali, tulisan-tulisan yang dikemas dengan menarik, simple, dan di dalamnya ternyata banyak ajaran-ajaran agama untuk anak-anak muda, itu adalah salah satu nilai + untuk blog ini.
Sekian dulu ya pakde untuk review ku malam ini, mohon maaf jika kurang berkenan dan lancang mereview blog pakde padahal blogku aja belum karuan. Tapi mau gimana lagi pakde, ini adalah tantangan untuk menambah poin. Sekali lagi, maaf pakde 🙏
#TugasBonusRCO'3
#Tingkat2
Ternyata aku kebagian blog pakde Walimin.
Pakde Walimin menurutku memang sosok yang keren, hebat, dan saya adalah salah satu pembaca gelap di blog pakde ini *ampun pakde 🙏
Langsung saja, menurutku blog pakde walimin ini bagus sekali, tulisan-tulisan yang dikemas dengan menarik, simple, dan di dalamnya ternyata banyak ajaran-ajaran agama untuk anak-anak muda, itu adalah salah satu nilai + untuk blog ini.
Sekian dulu ya pakde untuk review ku malam ini, mohon maaf jika kurang berkenan dan lancang mereview blog pakde padahal blogku aja belum karuan. Tapi mau gimana lagi pakde, ini adalah tantangan untuk menambah poin. Sekali lagi, maaf pakde 🙏
#TugasBonusRCO'3
#Tingkat2
Review blog milik guru BK
Kenapa lebih milih blog ibu guru sendiri? Ya sengaja aja lah hahahaha
Bu Lia Atis Sasmitha atau Sasmitha A. Lia ini adalah guru BK yang super duper galak kalau dengan anak-anak yang bermasalah, kalai denganku? Tentu saja tidak 😂
Bu Lia ini yang awalnya nyaranin untuk masuk ODOP batch 4, dan akhirnya aku ikuti saja 😜
Awalnya aku kira bu Lia ini anggota ODOP batch 3, eh ternyata setelah di teliti lebih lanjut, ternyata anggota ODOP batch 2. Tempat curhat yang nyaman, tempat pinjam novel-novel bagus, dan tempat menyimpan banyak rahasia, rasanya bu Lia ini sudah melebihi guru BK bagiku, dia adalah ibu kedua yang selalu memperhatikanku.
Aku rasa basa-basinya cukupkan dulu, kita masuk ke inti tulisan ini.
Kebetulan RCO'3 mengeluarkan tugas bonus yang akan menambah poin untuk tingkat ini, dan aku memilih review blog bu Lia.
Singkat saja, blog bu Lia ini menurutku rapi sekali, dengan tata yang menarik, template yang menarik juga, serta tulisan-tulisan yang memanjakan para pembaca setianya.
Tulisan yang sangat oke sesuai dengan umurnya yang sudah lumayan matang, begitu juga dengan isi blog ini. Tulisan-tulisan yang dikemas dengan menarik dan membuat pembaca enggan berhenti membaca jika belum selesai.
Aku kira cukup dulu review kali ini, walau sebenarnya merasa tidak pantas karena blog saya sendiri jauh dari kata sempurna, dan saya menyadari, kesempurnaan hanya dimiliki Tuhan Yang Maha Esa.
#TantanganBonusRCO'3
#Tingkat2
Bu Lia Atis Sasmitha atau Sasmitha A. Lia ini adalah guru BK yang super duper galak kalau dengan anak-anak yang bermasalah, kalai denganku? Tentu saja tidak 😂
Bu Lia ini yang awalnya nyaranin untuk masuk ODOP batch 4, dan akhirnya aku ikuti saja 😜
Awalnya aku kira bu Lia ini anggota ODOP batch 3, eh ternyata setelah di teliti lebih lanjut, ternyata anggota ODOP batch 2. Tempat curhat yang nyaman, tempat pinjam novel-novel bagus, dan tempat menyimpan banyak rahasia, rasanya bu Lia ini sudah melebihi guru BK bagiku, dia adalah ibu kedua yang selalu memperhatikanku.
Aku rasa basa-basinya cukupkan dulu, kita masuk ke inti tulisan ini.
Kebetulan RCO'3 mengeluarkan tugas bonus yang akan menambah poin untuk tingkat ini, dan aku memilih review blog bu Lia.
Singkat saja, blog bu Lia ini menurutku rapi sekali, dengan tata yang menarik, template yang menarik juga, serta tulisan-tulisan yang memanjakan para pembaca setianya.
Tulisan yang sangat oke sesuai dengan umurnya yang sudah lumayan matang, begitu juga dengan isi blog ini. Tulisan-tulisan yang dikemas dengan menarik dan membuat pembaca enggan berhenti membaca jika belum selesai.
Aku kira cukup dulu review kali ini, walau sebenarnya merasa tidak pantas karena blog saya sendiri jauh dari kata sempurna, dan saya menyadari, kesempurnaan hanya dimiliki Tuhan Yang Maha Esa.
#TantanganBonusRCO'3
#Tingkat2
Senin, 02 April 2018
Alasan mengikuti RCO'3
Apa sih alasan saya mengikuti Reading Challenge ODOP '3?
Itu adalah pertanyaan yang sangat mudah bagi saya, kenapa? Karena jawabannya sangat jelas, mungkin sama dengan apa yang dipikiran teman-teman semua.
Simple, alasan saya mengikuti RCO ini karena memang saya ingin mempertahankan serta mengembangkan mood membaca saya. Mungkin dulu saya hanya mampu membaca 150 halaman dalam sehari, kini bisa mencapai 300 halaman dalam sehari, semoga saja.
Seperti yang pernah om Wakhid Samsyudin katakan "Kalau mau nulis dengan baik, perbanyak baca. Keduanya satu, tak terpisahkan. Kecuali kamu setuju kalau jomblo gak bakalan dapat jodoh".
Jelas, bukankah membaca adalah modal untuk menjadi seorang penulis? Kita dapat belajar dari buku-buku yang kita baca, belajar menulis dengan baik dan benar agar tulisan yang kita buat akan semakin indah.
Jadi, banyak-banyaklah membaca, karena, tanpa membaca, hidup kita tidak ada apa-apanya.
#TantanganTingkatI #RCO'3 #ODOP
Itu adalah pertanyaan yang sangat mudah bagi saya, kenapa? Karena jawabannya sangat jelas, mungkin sama dengan apa yang dipikiran teman-teman semua.
Simple, alasan saya mengikuti RCO ini karena memang saya ingin mempertahankan serta mengembangkan mood membaca saya. Mungkin dulu saya hanya mampu membaca 150 halaman dalam sehari, kini bisa mencapai 300 halaman dalam sehari, semoga saja.
Seperti yang pernah om Wakhid Samsyudin katakan "Kalau mau nulis dengan baik, perbanyak baca. Keduanya satu, tak terpisahkan. Kecuali kamu setuju kalau jomblo gak bakalan dapat jodoh".
Jelas, bukankah membaca adalah modal untuk menjadi seorang penulis? Kita dapat belajar dari buku-buku yang kita baca, belajar menulis dengan baik dan benar agar tulisan yang kita buat akan semakin indah.
Jadi, banyak-banyaklah membaca, karena, tanpa membaca, hidup kita tidak ada apa-apanya.
#TantanganTingkatI #RCO'3 #ODOP
Langganan:
Postingan (Atom)

