Kamis, 30 November 2017
Entah, disebut apakah tulisan ini
Dulu, aku pernah berjuang sekuat tenaga. Berjuang demi sesuatu yang kuanggap akan menjadi nyata. Tapi, semuanya sia-sia, semuanya tidak nyata, dan aku hampir tidak terima. Dulu aku pernah berjuang sekuat tenaga, tapi apakah sekarang aku bisa melepaskanmu dengan semua tenaga yang aku punya? Meninggalkanmu dengan lapang dada?
Minggu, 26 November 2017
Cinta Dari Secangkir Teh - 12 (Akhir)
“Rey datang ke rumahmu?” “Jangan ganggu dia lagi ya. Masa depannya masih panjang.”
Setelah mendapat pesan seperti itu Anne
langsung menghubungi Rey.
“Rey, diluar sana ada seseorang yang menyayangimu dengan tulus. Kau tidak perlu tahu itu siapa, tapi aku harap kamu lebih peka sehingga kamu bisa mengetahuinya.”
Rey membaca pesan dari Anne dan berusaha
berpikir keras untuk mencari tahu siapa perempuan yang dimaksud. Namun hingga
berhari-hari dia pun belum dapat mengetahuinya. Dia tetap menjalani
hari-harinya seperti biasa, bersama Sida. Dan Anne pun tak lagi menghubingi
Rey.
Hubungan Rey dengan Sida tetap berjalan lancar,
hingga pada suatu hari Sida membaca pesan dari Anne di handphone Rey. Sida
memang sering memeriksa pesan di handphone Rey, begitu juga sebaliknya. Dan
kali ini dia dikejutkan dengan pesan dari Anne yang dia baca. Dia merasa
bersalah karena mencintai seseorang yang sudah disayang oleh orang lain.
Keterkejutannya tidak diberitaukan kepada Rey,
dia menyimpannya sendiri di dalam hati. Hingga dia pun berniat untuk melepaskan
Rey. Berhari-hari dia dilanda kebingungan. Dan akhirnya dia memutuskan untuk
melupakan rey, melupakan segala kenangan.
Sida melepaskan kartu dari handphonnya, lalu
kemudian dia membuangnya. Berharap Rey tidak lagi menghubunginya. Handphonnya
tak lagi dinyalakan. Baginya sudah tak lagi penting, tak ada lagi yang harus
diberi kabar. Sedangkan Rey diluar sana belum tahu apa-apa.
Berhari-hari tak ada kabar mengenai Sida untuk
rey. Berulang kali dia mencoba menghubunginya, tapi nihil hasilnya. Rey hanya
mengira dia sedang tidak mempunyai pulsa atau kuota internet. Tapi ketika Rey
menelponnya pun nomornya tak lagi aktif. Ditanyakannyalah kepada beberapa
sahabat dekat Sida. Namun jawabannya tak ada yang membuatnya puas.
Untuk wanita misterius yang mengirim pesan
kepada Anne pun Rey belum mengetahuinya. Entah di mana dia berada, apakah itu
orang dekatnya, teman kerjanya atau
orang yang sering berjumpa dengannya, Rey belum mengetahuinya. Dia berharap
waktu mungkin akan memberitahunya, hanya saja kelemahan Rey adalah mengolah
kode-kode dari wanita. Jika ada perempuan yang memberi kode sederhana baginya
adalah rumus kimia tingkat atas yang tak mungkin dia pecahkan apa maksud kode
tersebut.
Diluar sana Sida berusaha keras melupakan
perasaannya kepada Rey. Kehadiran beberapa sahabatnya membantu ia sedikit demi
sedikit melupakan rey. Sedangkan Wanita misterius itu belum diketahui siapa
orangnya.
Akankah Sida kembali kepada rey? Ataukah Rey
akan dipertemukan dengan wanita misterius tersebut? Belum ada yang mengetahui
jawabannya. Sedangkan Anne yang mengetahui kuncinya kini tak lagi menghubungi
rey.
***Season 1 TAMAT***
*Untuk Season 2 sendiri penulis belum tahu
kelanjutan ceritanya. Jadi untuk sementara dipending dulu yah. Doakan saja yang
terbaik untuk Rey dan semuanya.
*Cerita ini mengambil inspirasi dari wawancara kisah cinta yang dialami oleh penulis blog MY DAKWAH MY ADVENTURE
*Cerita ini mengambil inspirasi dari wawancara kisah cinta yang dialami oleh penulis blog MY DAKWAH MY ADVENTURE
Sabtu, 25 November 2017
Cinta dari secangkir teh -11
"makasih ya rey, Kamu masih
memaafkan aku. Aku senang memiliki sahabat sepertimu. Kamu pernah ada dihatiku,
bahkan hingga kini. Aku tidak bisa melupakanmu. Sudah lama kamu tidak datang
kerumah. mama bertanya tentangmu" kata Anne lagi
"Sampaikan salamku untuknya.
aku akan kesana jika ada waktu luang" Jawab Rey
--------
“Nelpon Siapa?.” Terdengar suara mengejutkan
dari belakang
“Eh kamu rif. Nelpon si Anne, ada beberapa hal
yang harus dia bicarakan.” Jawabnya
“Oh si Anne, anak itu, Bukannya dulu kita
pernah janji untuk bermain kerumahnya?.” Arif teringat janjinya beberapa bulan
yang lalu
“Tapi aku malas mau kesana.” Keluh Rey
“Sudahlah, motorku kebetulan sedang menganggur,
besok kita kesana oke.” Arif memaksa Rey
Keesokan harinya Arif bersiap-siap untuk
berkunjung ke rumah Anne. Begitu juga dengan Rey, meskipun dengan berat hati tetapi
dia tidak mungkin menolak ajakan sahabatnya itu. Pergilah mereka berdua ke
tempat Anne tanpa membawa buah tangan sedikit pun.
Sesampainnya di sana terlihat rumah yang cukup
sepi. Mereka mengucapkan salam hingga berkali-kali namun tak ada jawaban.
Beberapa rumah di sebelahnya pun tampak sepi. Hanya terlihat seekor kura-kura
yang dikurung di dalam bak ukuran sedang di depan rumah Anne. Aku rasa
kura-kura itu pun merasakan kesepian, tinggal di tempat sempit tanpa ada teman
hidup dari jenis yang sama.
Setelah menunggu hampir setengah jam, datanglah
mama Anne bersama anak permpuan bungsunya. Dialah adik Anne, memang beda usia
diantara mereka tidak terlalu dekat namun jika mereka berdua duduk bersama tak
banyak orang yang dapat membedakannya.
Mereka berdua baru saja pulang dari kondangan.
“Eh Rey, sudah lama sampai, kenapa ga masuk ada
Anne di dalam?” sapanya
“Belum lama tante, emang ada Anne?. Dari tadi
aku teriak-teriak tidak ada jawaban.” Jawab Rey sambil menyalami
“Mungkin dia sedang tidur. Sebentar tante
bangunkan.”
Beberapa saat kemudian keluarlah Anne dengan
wajah malu dan masih terlihat mengantuk. Mereka duduk di ruang tamu
berbasa-basi sedikit hingga mamanya keluar membawa 3 cangkir teh yang baru
diseduhnya.
Rey hanya banyak berdialog dengan mama Anne,
dan hanya beberapa kali dia menengok Anne.
“Kenapa aku merasa dicuekkin ya.” Keluh Anne
“Salah sendiri sih.” Sahut adeknya dari ruang tengah
“Salah sendiri sih.” Sahut adeknya dari ruang tengah
Hari itu mereka berbincang banyak hingga Arif
dan Rey berpamitan untuk pulang.
Menjelang maghrib Anne mendapat sebuah pesan di
handphonnya, kemudian ia pun membukanya.
Rey datang ke rumah kamu?
*Bersambung*
Jumat, 24 November 2017
Cinta dari secangkir teh -10
Hingga akhirnya datanglah suara ribut, suara anak-anak dan mereka adalah adik-adik Rey. Di antara anak-anak itu, ada satu perempuan dewasa yang tidak kalah riang dari mereka. Entah dari mana mereka siang bolong seperti ini, mungkin mereka menghilangkan rasa rindu karena lama tidak main bersama dan mereka memilih berkeliling.
Hendak menghilangkan penat, Sida masuk kedalam kamar untuk mengambil handuk dan langsung pergi kekamar mandi. Sida belum sadar dengan adanya Rey, begitu pula sebaliknya. Rey masih tertidur pulas.
Setelah badan kembali segar, Sida kembali menuju ke kamarnya dan Ia baru tersadar bahwa ada Rey disana. Sida kaget dan berteriak, namun Rey tetap tertidur.
Hingga Sida menimpa perut Rey baru dia terbangun dari tidurnya.
Pada saat yang bersamaan Sida merasa kesal karena Rey datang terlambat. Tapi, disisi lain Sida bahagia karena bisa bertemu Rey kembali. Dia memukul Rey pelan karena kesal, sedangkan Rey hanya tertawa melihat perlakuan Sida. Akhirnya dia menjelaskan alasannya, kenapa Ia baru bisa datang.
Sida melihat kuku jari Rey yg sudah agak panjang ketika dia memegang tangan Rey, kemudian dia pun memotongkannya. Seharian penuh mereka habiskan bersama untuk mengobati rindu. Bercanda gurau, bercerita, dll.
Pukul sepuluh malam Rey baru kembali kerumah tempat ia tinggal dan kembali esok harinya lagi. Setiap hari begitu, hingga akhirnya waktu Sida untuk kembali ke kampus tiba.
*****
Suatu hari, Rey sedang duduk menikmati tehnys dipagi hari yang cerah, didepan rumahnya. Tiba-tiba ada notifikasi masuk, dan itu dari media sosial. Rey melihatnya, dan ternyata itu dari Anne.
"Rey, aku ingin meminta maaf" kata Anne melalui sebuah pesan
"Maaf kenapa?" tanya Rey
"Aku merasa bersalah banget sama kamu" sesal Anne.
Rey tersenyum membaca baris-baris kata dari Anne
"Kenapa nomermu tidak aktif? aku ingin menelepon?" Tanya Anne lagi
"Aku pake nomer baru. mana nomermu biar aku telepon" kata Rey
"Kau menghapus nomerku?" tanya Anne
"Iya" jawab Rey tenang.
Kemudian Anne memberi nomor teleponnya dan Rey langsung menelpon Anne. Anne menangis di seberang telepon.
"Sudahlah itu masa lalu" kata Rey
"Iya tapi aku tidak bisa menahan air mata" jawab Anne
"Hahaha, tenang saja. kita sahabt kan?" tanya Rey
"Iya" kata Anne
"makasih ya rey, Kamu masih memaafkan aku. Aku senang memiliki sahabt sepertimu. Kamu pernah ada dihatiku, bahkan hingga kini. Aku tidak bisa melupakanmu, sudah lama kamu tidak datang kerumah. mama bertanya tentangmmu" kata Anne lagi
"Sampaikan salamku untuknya. aku akan kesana jika ada waktu luang" kata Rey
**Bersambung**
Hendak menghilangkan penat, Sida masuk kedalam kamar untuk mengambil handuk dan langsung pergi kekamar mandi. Sida belum sadar dengan adanya Rey, begitu pula sebaliknya. Rey masih tertidur pulas.
Setelah badan kembali segar, Sida kembali menuju ke kamarnya dan Ia baru tersadar bahwa ada Rey disana. Sida kaget dan berteriak, namun Rey tetap tertidur.
Hingga Sida menimpa perut Rey baru dia terbangun dari tidurnya.
Pada saat yang bersamaan Sida merasa kesal karena Rey datang terlambat. Tapi, disisi lain Sida bahagia karena bisa bertemu Rey kembali. Dia memukul Rey pelan karena kesal, sedangkan Rey hanya tertawa melihat perlakuan Sida. Akhirnya dia menjelaskan alasannya, kenapa Ia baru bisa datang.
Sida melihat kuku jari Rey yg sudah agak panjang ketika dia memegang tangan Rey, kemudian dia pun memotongkannya. Seharian penuh mereka habiskan bersama untuk mengobati rindu. Bercanda gurau, bercerita, dll.
Pukul sepuluh malam Rey baru kembali kerumah tempat ia tinggal dan kembali esok harinya lagi. Setiap hari begitu, hingga akhirnya waktu Sida untuk kembali ke kampus tiba.
*****
Suatu hari, Rey sedang duduk menikmati tehnys dipagi hari yang cerah, didepan rumahnya. Tiba-tiba ada notifikasi masuk, dan itu dari media sosial. Rey melihatnya, dan ternyata itu dari Anne.
"Rey, aku ingin meminta maaf" kata Anne melalui sebuah pesan
"Maaf kenapa?" tanya Rey
"Aku merasa bersalah banget sama kamu" sesal Anne.
Rey tersenyum membaca baris-baris kata dari Anne
"Kenapa nomermu tidak aktif? aku ingin menelepon?" Tanya Anne lagi
"Aku pake nomer baru. mana nomermu biar aku telepon" kata Rey
"Kau menghapus nomerku?" tanya Anne
"Iya" jawab Rey tenang.
Kemudian Anne memberi nomor teleponnya dan Rey langsung menelpon Anne. Anne menangis di seberang telepon.
"Sudahlah itu masa lalu" kata Rey
"Iya tapi aku tidak bisa menahan air mata" jawab Anne
"Hahaha, tenang saja. kita sahabt kan?" tanya Rey
"Iya" kata Anne
"makasih ya rey, Kamu masih memaafkan aku. Aku senang memiliki sahabt sepertimu. Kamu pernah ada dihatiku, bahkan hingga kini. Aku tidak bisa melupakanmu, sudah lama kamu tidak datang kerumah. mama bertanya tentangmmu" kata Anne lagi
"Sampaikan salamku untuknya. aku akan kesana jika ada waktu luang" kata Rey
**Bersambung**
Cinta dari secangkir teh -9
Akhirnya Rey pun mengiyakan permintaan Sida. Mereka kembali akrab meskipun pada hatinya Rey masih ada sebuah perasaan yang menganggapnya sebagai sahabat. Disinilah awal mula sebuah kisah pada novel yang berjudul Hanya padamulah Aku Jatuh Cinta Paling Sengaja.
Semenjak kepergian Sida, mereka berdua tidak pernah sekalipun lagi berjumpa. Hingga berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Mereka hanya mengobati rasa rindu dengan via suara dan itupun hanya terjadi sepekan sekali, hingga menjadi hari yang paling dinanti di dalam satu pekan.
Mereka saling memendam rindu, rindu yang semakin lama, semakin tidak bisa ditahan lagi. Ingin bertemu, tapi keadaan yang tidak memungkinkan. Jarak dan kota selalu saja menghalagi rindu mereka. Jika jarak ini tidak berarti, Rey akan lalui semuanya. Tapi ada daya. Rey dan Sida sangat saling merindu, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaan ini.
Hingga tibalah saat libur dan mereka mempunyai waktu untuk berjumpa dirumah mama angkatnya. Tetapi sayangnya Rey datang terlambat. Harusnya dia datang malam, tapi dikarenakan ada beberapa kendala, akhirnya dia datang di pagi harinya. Sida kesal kepada Rey, hingga akhinya dia berbohong bahwa dia sudah pergi. Tetapi sayangnya Rey mengetahui semua itu, dan Rey tetap berangkat kerumah mama angkatnya.
Akhirnya Rey datang kerumah, dan dilihatnya sangat sepi. Biasanya banyak anak-anak dirumah itu, tapi kini hanya ada mamanya seorang diri. Rey kemudian menghampiri dan menyapa mamanya. Mereka asyik bersendagurau. Rey menceritakan semua hal yang dialaminya selain hubungannya dengan Sida.
Setelah selesai makan siang, Rey mengantuk dan dia pamit kepada mamanya untuk tidur siang. Dirumah mamanya hanya ada dua kamar. Masuklah Rey kedalam kamar yang satunya, dan dia melihat barang-barang Sida masih ada
"Memang bohong ini orang." Ujar Rey sambil tertawa.
Tetapi Rey tidak memperdulikan apa-apa lagi dan langsung terlelap.
Hingga akhirnya datanglah suara ribut, suara anak-anak, mereka adalah adik-adik Rey. Di antara anak-anak itu, ada satu perempuan dewasa yang tidak kalah riang dari mereka. Entah dari mana mereka siang bolong seperti ini, mungkin mereka menghilangkan rasa rindu karena lama tidak main bersama dan mereka memilih berkeliling.
**Bersambung**
Semenjak kepergian Sida, mereka berdua tidak pernah sekalipun lagi berjumpa. Hingga berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Mereka hanya mengobati rasa rindu dengan via suara dan itupun hanya terjadi sepekan sekali, hingga menjadi hari yang paling dinanti di dalam satu pekan.
Mereka saling memendam rindu, rindu yang semakin lama, semakin tidak bisa ditahan lagi. Ingin bertemu, tapi keadaan yang tidak memungkinkan. Jarak dan kota selalu saja menghalagi rindu mereka. Jika jarak ini tidak berarti, Rey akan lalui semuanya. Tapi ada daya. Rey dan Sida sangat saling merindu, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaan ini.
Hingga tibalah saat libur dan mereka mempunyai waktu untuk berjumpa dirumah mama angkatnya. Tetapi sayangnya Rey datang terlambat. Harusnya dia datang malam, tapi dikarenakan ada beberapa kendala, akhirnya dia datang di pagi harinya. Sida kesal kepada Rey, hingga akhinya dia berbohong bahwa dia sudah pergi. Tetapi sayangnya Rey mengetahui semua itu, dan Rey tetap berangkat kerumah mama angkatnya.
Akhirnya Rey datang kerumah, dan dilihatnya sangat sepi. Biasanya banyak anak-anak dirumah itu, tapi kini hanya ada mamanya seorang diri. Rey kemudian menghampiri dan menyapa mamanya. Mereka asyik bersendagurau. Rey menceritakan semua hal yang dialaminya selain hubungannya dengan Sida.
Setelah selesai makan siang, Rey mengantuk dan dia pamit kepada mamanya untuk tidur siang. Dirumah mamanya hanya ada dua kamar. Masuklah Rey kedalam kamar yang satunya, dan dia melihat barang-barang Sida masih ada
"Memang bohong ini orang." Ujar Rey sambil tertawa.
Tetapi Rey tidak memperdulikan apa-apa lagi dan langsung terlelap.
Hingga akhirnya datanglah suara ribut, suara anak-anak, mereka adalah adik-adik Rey. Di antara anak-anak itu, ada satu perempuan dewasa yang tidak kalah riang dari mereka. Entah dari mana mereka siang bolong seperti ini, mungkin mereka menghilangkan rasa rindu karena lama tidak main bersama dan mereka memilih berkeliling.
**Bersambung**
Rabu, 22 November 2017
Cinta dari secangkir teh -8
Merasa tersakiti oleh Rey, Sida mencoba tidak lagi menghubunginya.
Dia menangis semalam suntuk hingga matanya membengkak pada pagi harinya. Hal
tersebut diketahui oleh adik perempuannya, dan dia menceritakannya kepada Rey.
Mendengar hal tersebut Rey merasa bersalah dan dia mencoba untuk meminta maaf, namun
tak ada balasan dari Sida. Berulang kali dia mencoba menghubungi Sida, tak
adapun satupun balasan darinya, hingga akhirnya dia pun menyerah.
Rey tidak lagi menghubungi Sida, meskipun sebenarnya
dihatinya ada perasaan rindu yang menggebu. Dua hari benar-benar tanpa kabar.
Rey akhirnya mengingatkan Sida di hari ketiga, melalui chat. Bahwa jika sampai
7 hari dis tidak ada membalas chat lagi Rey, berarti Sida tak lagi ingin
bersama Rey dan Rey akan mencoba melupakan dia.
Rey menunggu. Di hari ke empat belum ada balasan, begitu
juga di hari ke lima. Rey terus mengecek handphonenya, namun tak kunjung ada
balasan dari Sida.
Rey perlahan mencoba menghilangkan perasaan rindunya. Dan
dia juga berpikir, _klo memang ditakdirkan bersama, toh nanti juga akan
dipertemukan.
Hingga akhirnya pada hari keenam tepatnya saat itu pukul
22.15. Ada sebuah notifikasi membangunkan layar handphone Rey. Rey pun beranjak
dari tempat tidurnya, digapainya handphone dan dia dapati ada sebuah pesan
panjang dari Sida.
Sebuah pesan yang berisi berbagai alasan Sida untuk tidak
membalas pesan Rey, dan permohonan maaf. Dan di dalamnya Sida juga
mengungkapkan betapa rindunya ia kepada Rey, dan dia tidak bisa melupakan Rey
semudah itu. Kemudian Rey langsung meneleponnya. Dalam telepon, Sida
memohon kepada Rey sambil terisak tangis untuk tidak pernah meninggalkannya.
Memang semenjak dulu Rey tidak pernah bisa
melihat/mendengar tangis seorang wanita. Dia juga pernah hampir berkelahi
dengan seorang lelaki yang membuat perempuan menangis ketika berada di dalam
kereta.
Akhirnya Rey pun mengiyakan permintaan Sida. Mereka
kembali akrab meskipun pada hatinya Rey masih ada sebuah perasaan yang
menganggapnya sebagai sahabat. Disinilah awal mula sebuah kisah pada novel yang
berjudul Hanya padamulah Aku Jatuh Cinta Paling Sengaja.
Selasa, 21 November 2017
Cinta dari secangkir teh -7
Suatu malam ketika mereka lagi
duduk berdua, Rey bertanya kepada Sida
"Kamu suka sama aku kan?"
Jantung Sida berdetak kencang, gugup, dan pipinya memerah. Tapi Ia harus mengakuinya.
"Iya aku tau, sudah keliatan" kata Rey.
Tapi Rey belum mau terlalu dekat dan hubungan mereka belum ada status.
"Kamu suka sama aku kan?"
Jantung Sida berdetak kencang, gugup, dan pipinya memerah. Tapi Ia harus mengakuinya.
"Iya aku tau, sudah keliatan" kata Rey.
Tapi Rey belum mau terlalu dekat dan hubungan mereka belum ada status.
Mereka kembali menjalani hari-hari seperti biasa, seperti tidak
ada yang terjadi, tidak ada yang kurang. Suatu pagi Sida pergi ke luar kota
untuk kembali melanjutkan kuliah, setelah libur panjangnya usai. Dia berangkat
tanpa sepengetahuan Rey karena Ia berangkat cukup pagi, untuk menghindari
kemacetan kota.
pagi harinya rey mendapati Sida sudah tak lagi berada dirumah mama
angkatnya. Dia merasa kesal karena kepergian Sida yang tanpa sepengetahuannya.
Kemudian Rey mencoba menghubungi Sida, namun belum ada jawaban.
Sebelum kepergian Sida yang mendadak mereka berdua sempat membuat
janji untuk duduk bersama menikmati teh sambil bercerita. Dan Rey pun menagih
hal itu ketika mereka kembali berbicara lewat telepon. Kini interaksi diantara
keduanya mulai ada kecanggungan. Rey pun menyadari bahwa dia mulai menaruh
perasaan terhadap Sida di hatinya.
Meskipun sudah terpisah oleh jarak, mereka tetap sering
berkomunikasi, membagi cerita yang masing-masing dari mereka alami dalam setiap
harinya. Dan sifat Sida mulai agak berubah, dia sering mengambek hanya karena
Rey tidak memberi kabar dalam sehari. Dan Rey semakin tidak enak mengingat
hubungan mereka yang hanya masih sekedar berteman.
Hingga pada suatu malam terlontar sebuah perkataan dari Rey,
"Sida, ingatlah hubungan kita saat ini masih sebatas
teman." Ujar Rey tanpa sengaja
Kata-kata itu terlontar dari mulut Rey dikarenakan sudah terlalu
sering Sida marah-marah karena Rey telat memberi kabar.
Merasa tersakiti Sida mencoba tidak lagi menghubungi Rey. Dia
menangis semalaman hingga matanya membengkak pada pagi harinya. Hal tersebut
diketahui oleh adiknya, dan diceritakan kepada Rey. Mendengar hal tersebut Rey
merasa bersalah dan dia meminta maaf, namun tak ada balasan dari Sida, hingga
akhirnya dia pun menyerah.
Langganan:
Postingan (Atom)





